CARI DI BLOG INI

Memaparkan catatan dengan label Nine Tenun. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Nine Tenun. Papar semua catatan

Pesan Lawe untuk Perempuan Penenun

Adinindyah Pemateri atau Expert Pelatihan Teknis Ragam Produk Tenun dari Lawe memiliki pesan dan kesan tersendiri terhadap para perempuan penenun terutama para peserta pelatihan yang diselenggarakan di Pringgesala Selatan (12-13/9/17) 

Perempuan cantik yang berkantor di Jln. Prof. Dr Ki Amri Yahya No.6 Yogyakarta itu mengajak kreatif nine se Indonesia, khususnya Lombok agar istiqomah meningkatkan kekayaan budaya. “Kekayaan Budaya itu jangan hanya jadi cerita,jadi harus dilestarikan,”katanya sembari mengajak dan mendorong komunitas untuk belajar berkesinambungan.

Adinindyah dengan nama 10 huruf itu juga didatangkan khusus oleh Rimbawan Muda Indonesia (RMI) dan Gema Alam NTB ini juga membaca potensi besar melihat peserta pelatihan yang sangat antusias dan muda. “Potensinya besar ya, karena teman-teman masih muda, banyak generasinya,” kesannya (konzon.IV)

Baca Informasi Terkait

Terimakasih Kelompok Tenun untuk Konsorsium

Kepoin Pelatihan Ragam Produk Tenun di Pringgesela

Kiprah Tenun Pringgesela Ala Tamu dari Jogja

Pesan Lawe untuk Perempuan Penenun


Audisi PB Jarum dan Keistiqomahan Atlet Berjilbab


NINEBISA.NET. Ada satu hal menarik pada tahap awal audisi umum pemain bulu tangkis di Kudus. Terlihat sejumlah peserta untuk katogori usia 11 tahun (U-11) putri yang menggunakan jilbab.

Vika Verlita (8) adalah salah satunya. Siswa Madrasah Ibtidaiyah, Nuru Shofa, di Desa Karangbener, Bae, Kudus, bersama sekitar dua temannya memang baru kali pertama mengikuti audisi beasiswa bulutangkis yang digelar tahunan.

Sejauh ini, memang belum ada pebulutangkis putri Indonesia yang mengenakan jilbab. Tetapi sebenarnya adakah peluang bagi mereka yang berjilbab menjadi atlet bulutangkis?

Baca :

Pak Kyai Salah Sangka dalam Pertarungan Tinju


"Itu keyakinan masing-masing. Kalau kami melihatnya bermain bulutangkis, yang memerlukan suatu pergerakan yang bebas, agak menganggu. Tetapi, kalau yang bersangkutan merasa nyaman-nyaman saja, ya kami menghormati," ujar Manager Tim PB Djarum, Fung Permadi, dikutip dari Antara, Rabu (6/9/2017).

Dia menegaskan tak ada halangan bagi mereka yang berjilbab mengikuti audisi PB Djarum. Tentunya, jika mereka memiliki kompetensi yang dibutuhkan tim pencari bakat pasti ada kesempatan, tutur Fung.

"Pasti bisa, tetapi kriterianya dari sisi kemampuan dan kemauannya sendiri. Tadi ada dua yang mengenakan jilbab di audisi awal tahap awal. Dari sisi kemampuan mereka terlalu mendasar, seperti baru belajar memukul (bola kok) dan belum lama menekuni olahraga bulutangkis," kata Fung.

Atlet Berjilbab,salamonline.com
Sementara itu, Farida, guru olahraga yang mendampingi Vika, mengatakan sekalipun masih pemula, namun anak didiknya itu sudah bisa setidaknya memegang raket dan melakukan servis bola.

Kemudian, mengenai kondisi Vika yang mengenakan jilbab, dia mengatakan tak ada masalah sejauh ini.

"Tidak ada halangan mengenakan jilbab dipersulit mengikuti pertandingan. Dia kan mengenakan celana training panjang, jilbab langsung yang nyaman dan tidak menganggu pergerakannya," tutur Farida.
 
Disadur dari http://uzone.id/perempuan-berjilbab-bisa-jadi-atlet-bulutangkis/

Kelompok Nine Tenun Pringgesela Dapatkan Hibbah Bergulir Koperasi Hijau

Potret Produk Nine Tenun Pringgesela
NINEBISA.NET.  Kelompok Nine Tenun desa Pringgesela Kecamatan Pringgesa Lombok Timur mendapatkan Hibbah Bergulir dari Koperasi Hijau GEMA ALAM NTB. Penyalurkan bantuan Dana Bergulir dilakukan atas kerjasama antara Gema Alam NTB dengan Global Micro Initiative (GMI) Jerman yang pelaksanaannya dilakukan oleh Koperasi Hijau Gema Alam NTB.

Baca Informasi Terkait di

www.gemaalamntb.org

www.ninebisa.blogspot.com

www.lombokepo.blogspot.com

www.juwitour.blogspot.com


"Penyaluran dana bergulir ini bertujan untuk menambah modal usaha kelompok Nina Tenun," kata Gema Alam NTB melalui Devisi Tata Kelola (Tala).  Dengan bantuan modal ini kelompok diharapkan semakin termotivasi untuk lebih giat mengembangkan usahanya agar dapat menambah sumber pendapatannya.

Kelompok Nina Tenun merupakan kumpulan perempuan-perempuan penenun yang ada di Desa Pringgasela Selatan. Kelompok ini menggeluti usaha tenun bukan semata-mata untuk menambah pendapatan, akan tetapi  pengembangan usaha tenun ini lebih kepada bagaimana menjaga dan melestarikan tenun sebagai warisan budaya yang memiliki nilai filosofis tinggi dalam kehidupan masyarakat Desa Pringgasela Selatan.

Jumlah dana yang digulirkan tidaklah besar yaitu Rp.2.000.000/orang. Dana tersebut dikembalikan dengan cara mencicil setiap bulan dalam jangka waktu 6 bulan. Setiap peminjam dikenakan jasa 0,5% atau Rp.10.000/bulan. Meskipun aturan cicilannya dilakukan setiap bulan, namun kelompok tidak disanksi denda jika mengalami keterlambatan dalam menyetor cicilan.

Untuk mendapatkan bantuan dana bergulir ini, tidak mensyaratkan adanya jaminan, yang penting masyarakat memiliki kemauan untuk berusaha dan memiliki usaha yang jelas. Meskipun begitu, penyalurannya tidak dapat dilakukan begitu saja.

Tetapi harus melalui proses penilaian kelayakan yang dinilai oleh Gema Alam  dan kelayakannya disetujui oleh GMI. Selanjutnya, jika calon penerima dana sudah disetuju, Koperasi Hijau Gema Alam sebagai penyalur kemudian membuat “Akad” atau kesepakatan antara koperasi dengan penerima dana. Setelah akad selesai, barulah kemudian dilakukan pencairan dana.

Kerjasama Gema Alam dengan GMI tidak hanya sebatas pada penyaluran bantuan dana bergulir, tetapi kemitraan ini juga akan melakukan penguatan kapsitas kelompok melalui pendampingan, pelatihan dan perluasan pasar secara berkelanjutan sampai pada kelompok memiliki kemandirian.

Pemberian dana bergulir ini bukan semata-mata untuk menambah modal usaha kelompok, tetapi mengajak masyarakat untuk menciptakan system permodalan yang lebih sehat, yang mengedepankan prinsip keterbukaan, kebersamaan,  saling percaya dan kesetaraan.

Harapannya, system ini dapat menjadi alternative permodalan sehingga kelompok dapat terhindar dari praktek-praktek permodalan yang tidak fair, rentenir dan ekploitatif.

Kerjasama Gema Alam dengan GMI Jerman akan dilakukan secara berkelanjutan, namun sangat tergantung dari sejauh mana tingkat keberhasilan pengembangan system ini. Oleh karena itu, pada periode pertama ini dimulai dari dua desa, yaitu Desa Pringgasela Selatan dengan kelompok Nina Tenunnya dan Desa suela dengan FORMULA (Forum Pemuda Desa Suela).

Membela Etika Atlit Perempuan dan Negara yang Dikeluarkan dari Federasi

NINEBISA.NET. KARENA membela etika, budaya dan kehormatan Islam, Turki memutuskan untuk keluar dan menarik atletnya dari kompetisi internasional, yaitu Turnamen Wushu Eropa untuk tahun ini.

Itu dilakukan sebagai bentuk protes terhadap penyelenggara turnamen yang melarang atlet Wushu perempuan mengenakan jilbab.

Wushu merupakan seni bela diri yang berasal dari Cina.

“Pada 2014, kami tidak membawa serta atlet wanita dari Turki ke kejuaraan, tapi tahun ini kami telah memutuskan untuk tidak menghadiri acara itu,” kata Abdurrahman Akyuz, dari International Wushu Federation Turki, seperti dikutip Onislam.net dari The Anadolu Agency,
Jumat (1/5).

Akyuz menekankan bahwa keputusan itu dibuat untuk memprotes aturan baru Federasi Wushu Eropa yang melarang atlet perempuan mengenakan jilbab dalam kompetisi.

“Turki tidak lagi mengakui Federasi Wushu Eropa dan sudah menyatakan hal ini kepada International Wushu Federation,” tambahnya.

Selain itu, ia mengatakan, Italia dan Prancis juga telah memutuskan untuk keluar dari Federasi Wushu Eropa dengan alasan “mal-administrasi”.

Bagi atlet Muslim Turki, Kompetisi wushu menyimpan memori buruk. Pada 2013, putri Akyuz yang juga atlet nasional Turki, Zeynep Akyuz, tidak mendapatkan nilai apapun ketika dia tampil dalam kompetisi karena mengenakan jilbab. Federasi mengatakan kostum Zeynep tidak sesuai dengan aturan federasi.

Baca :
Bukit Terindah di Sembalun

Sebagai tanggapan, Zeynep Akyuz mengatakan bahwa keputusan Federasi Wushu Eropa untuk melarang atlet wanita memakai jilbab adalah tidak sopan untuk dunia Islam.

Seorang pejabat senior dari Federasi Wushu Turki mengatakan pada Rabu (29/4), “Turki tidak akan berpartisipasi dalam acara yang diselenggarakan oleh Federasi Wushu Eropa karena adanya larangan wanita mengenakan jilbab.”

Islam memandang mengenakan jilbab sebagai kewajiban dalam berpakaian, bukan simbol yang menunjukkan afiliasi seseorang.

Sumber : Salam Online

NEWS