CARI DI BLOG INI

Memaparkan catatan dengan label Gubernur Perempuan. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Gubernur Perempuan. Papar semua catatan

Lisa Widodo, Perempuan Hebat Dibalik Biblidotcom

Dilansir dari IDNTimes. Berlatar belakang jurusan Mechanical Engineering, Lisa Widodo, lulusan Honours dari The University of Texas di Austin dan MSc dalam Materials Science and Mechanical Engineering dari Universitas yang sama.

Lisa yang sempat memimpin beberapa proyek penting sebagai Project and Process Engineer di SEMATECH, USA kemudian memutuskan kembali ke Indonesia di tahun 2005 karena ingin mulai berkontribusi lebih banyak kepada Indonesia dalam kapasitas yang dimiliki.

Sejak didirikan di tahun 2011, hingga berhasil menjadi salah satu perusahaan e-commerce yang terkemuka saat ini, Blibli.com adalah perusahaan yang selalu memiliki mimpi untuk dapat memberdayakan para generasi Indonesia melalui ekosistem e-commerce.

“Saya menyadari bahwa tujuan hidup saya adalah menggunakan apa yang sudah dipelajari dan dapatkan dari pengalaman selama di Amerika, berpartisipasi untuk mengembangkan Indonesia. Saya ingin membangun bangsa ini”, kata Senior Vice President of Operations dan Senior Vice President of Product Management Blibli.com. “Saat ini saya merasa sudah terpenuhi karena bekerja untuk perusahaan yang juga sangat mencintai Indonesia dan berbagi mimpi untuk memberdayakan Indonesia”, Lisa menambahkan.

Lisa Widodo yang kini juga adalah seorang Ibu dari 2 orang putri ini mengungkapkan bahwa dirinya sama sekali tidak pernah berpikir untuk terjun ke industri digital dan teknologi. Semuanya terjadi begitu saja, seperti sudah ada yang mengarahkan. Saat masih menjadi mahasiswa di jurusan teknik mesin, untuk berkesempatan mendapatkan in-state tuition (biaya kuliah yang 3x lebih murah dari biaya kuliah Internasional), Lisa harus bekerja selama 20 jam per minggu.

Pekerjaan yang dia dapat adalah bekerja di laboratorium komputer dengan pekerjaan teknis terkait infrastruktur.  Selanjutnya, setelah lulus gelar Master of Mechanical Engineering, Lisa mendapatkan pekerjaan yang terkait dengan masa depan semikonduktor, yang biasanya hanya diberikan kepada lulusan Electrical Engineering, dimana Ia melakukan beragam  eksperimen dan menulis publikasi tentang silicon wafers yang merupakan dasar mikroprosesor yang digunakan untuk banyak perangkat hardware.

Begitupun pada saat bekerja di Citi Indonesia, Lisa terlibat dalam departemen Operations and  Technology. Hingga pada akhirnya Lisa mendapatkan kesempatan bergabung dengan Blibli.com untuk membangun e-commerce yang berpotensi untuk menjadi yang terbaik di Indonesia.  “Intinya, saya adalah orang yang percaya dan mendengarkan kata hati meskipun banyak pengalaman yang saya alami adalah pengalaman baru juga untuk saya", jelasnya lagi.

Banyaknya pengalaman yang sudah ia rasakan di dunia digital dan teknologi, Lisa Widodo mengakui bahwa perkembangan teknologi sekarang lebih cepat dari kecepatan cahaya
Lisa Widodo Ingin Memberdayakan Generasi Indonesia Melalui Teknologitwitter.com/bliblidotcom

Masih banyak peluang dan ruang luas untuk eksplorasi. Secara pribadi ia sangat terbuka terhadap segala perubahan yang menawarkan kemudahan, kenyamanan dan efisiensi waktu dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyayangkan bahwa di luar sana masih banyak yang menutup diri untuk merangkul dunia digital.

“menjadi salah satu pendukung dan good ambassador bagi banyak orang di sekitar juga merupakan bagian tanggung jawab saya berada di industri digital’, tambahnya.

Sementara tanggung jawabnya secara profesional adalah untuk memastikan ekosistem yang sehat, artinya tidak ada perilaku abusif atau aktifitas fraud di dalam ekosistemnya. “Kita semua bertanggungjawab untuk memastikan bahwa ekosistem sangat penting untuk kelanjutan dan masa depan digitalisasi”.

Lisa bersyukur menjadi salah satu wanita yang memiliki kesempatan untu berkarier di dunia digital dan teknologi, bahkan lanjutnya lagi berdasarkan survey Nielsen, wanita lebih banyak melakukan aktivitas digital dibanding pria. Karena wanita senang bersosialisasi, menggunakan jejaring sosial, membagi pengalamanannya lewat blog, mecoba belanja online dan berpartisipasi survey dan ulasan produk. Wanita lebih mengerti tentang wanita, dan hal tersebut adalah terbaik menurutnya.


Sumber IDNTimes.com

Daftar Pencarian

  • perempuan hebat dunia
  • artikel wanita tangguh
  • kamu wanita hebat
  • menjadi perempuan hebat
  • perempuan hebat indonesia
  • jadilah wanita yang hebat
  • ciri-ciri wanita hebat
  • kata kata perempuan hebat

Perempuan Inspiratif Menuju Ikhtiar NTB Satu

Sumber : Facebook Assagaf Hamdi
Catatan ini terinspirasi dari catatan wartawan Lombok Post, Hamdani Whatoni. Dari media populer di NTB ini bagimana profil Dr. Sitti Rohmi Djalillah dikenal. Ternyata beliau adalah sang Juara.  “Alhamulillah ternyata dapat juara umum juga. Padahal pesaingnya berasal dari sejumlah sekolah ternama yang ada di Kota Mataram,” tuturnya sebagaimana yang diberitakan Lombok Post.

Lombok Post juga mencatat bahwa Rektor Universitas Hamzanwadi ini kini menjadi salah satu figur perempuan yang digadang sebagai calon kuat dalam Pilgub NTB mendatang.

Lebih lengkap, Jawa Post Group itu juga membaca bahwa Tokoh Perempuan ini memiliki wajah yang teduh. Dalam setiap kata yang dia ucapkan, sebagian besar diakhiri dengan  senyum tipis. Anak pertama dari almarhum HM. Djalaluddin dan Siti Rauhun ini merupakan kakak dari Gubernur NTB Dr HM Zainul Majdi dan empat saudara lainnya.

Dr. Sitti Rohmi Djalilah lahir di Pancor 29 Nopember 1968. Namun demikian, ia tumbuh besar di Mataram di kediaman orang tuanya. Ia menghabiskan mas kanak-kanak di SDN 3 Mataram kemudian SMPN 2 Mataram dan SMAN 1 Mataram.

Sejak duduk di bangku kelas  SD hingga SMA, istri Ketua DPRD Lotim H Khairul Rizal ini adalah langganan juara umum di sekolahnya. Apa rahasianya? Rohmi pun mengungkap bagaimana ia berhasil mendapatkan sejumlah prestasi yang diraihnya. “Semua biasa saja tidak ada yang istimewa. Semua berjalan apa adanya karena orang tua memang mendidikkami hidup sederhana,” tuturnya membuka percakapan.

Diceritakan Rohmi bagaimana kehidupan dirinya bersama keluarganya sejak masa kecil. Ia mengaku dididik dalam penuh kesederhanaan namun mengedepankan agama sebagai yang utama. Misalnya saja kewajiban untuk salat berjamaah, di waktu subuh, maghrib dan isya. “Tiga waktu tersebut wajib berjamaah. Ini yang saya rasakan ditekankan oleh kedua orang tua saya. Kalau untuk masalah pelajaran, nggak ada yang khusus. Lebih banyak waktunya belajar di sekolah. Kalau di rumah sih lebih banyak mainnya seperti anak pada umumnya,” bebernya tersenyum.

Selain itu, keluarganya dikatakannya memiliki kebiasan untuk wajib sarapan, makan siang hingga makan malam bersama-sama di rumah. Kebersamaan dalam keluarga dalam sebuah kesederhanaan menjadi sebuah konsep yang sangat dijaga oleh ayahnya.

“Kami itu juga oleh beliau didik disiplin. Kalau misalnya ngatur waktu itu harus pintar, yang paling utama jangan tinggal salat. Lebih baik tinggal yang lain,” akunya.

Meski demikian, menurutnya keluarganya tidak seperti yang dibayangkan banyak orang. Meski hidup dalam dunia pendidikan Islam pesantren, ia merasa hidup normal seperti anak pada umumnya. Tidak melulu berkutat dalam kesibukan belajar.

“Tidak seperti yang dibayangkan. Waktunya main ya main, waktu sekolah ya sekolah. Itu pak tuan guru (TGB, Red) dia mainnya minta ampun. Lapangan Sangkareang itu sudah jadi daerah kekuasaannya untuk main. Nggak melulu kok belajar agama,” ceritanya.

Keseharian Rohmi semasa kecil dijalani seperti anak seusianya. Tidak ada perlakuan istimewa meskipun saat itu ia adalahanak seorang pejabat pemerintah daerah. “Kami nggak pernah merasa kalau kami ini anak pejabat. Nggak  pakai fasilitas mobil bapak untuk ke sekolah. Saya jalan kaki dari rumah ke sekolah, kadang kalau panas naik bemo,” kenangnya.

Prestasi di SD berlanjut ketika duduk di bangku SMPN 2 Mataram. Dimana ia sempat khawatir bahwa di sekolah yang menjadi salah satu sekolah favorit di Kota Mataram tersebut tak lagi bisa juara.


Berhasil meraih juara umum saat itu, ia pun dihadiahi ayahnya sepeda motor Yamaha Super Cup 800. Dimana hadiah ini menjadi sesutau hal yang paling berharga menurutnya. “Itu saya gunakan sampai tamat kuliah S1 di ITS Surabaya. Bahagianya bukan main. Hadiah itu membuat saya termotivasi untuk terus juara hingga di bangku SMA,” tuturnya

Sumber : Lombok Post

Membela Etika Atlit Perempuan dan Negara yang Dikeluarkan dari Federasi

NINEBISA.NET. KARENA membela etika, budaya dan kehormatan Islam, Turki memutuskan untuk keluar dan menarik atletnya dari kompetisi internasional, yaitu Turnamen Wushu Eropa untuk tahun ini.

Itu dilakukan sebagai bentuk protes terhadap penyelenggara turnamen yang melarang atlet Wushu perempuan mengenakan jilbab.

Wushu merupakan seni bela diri yang berasal dari Cina.

“Pada 2014, kami tidak membawa serta atlet wanita dari Turki ke kejuaraan, tapi tahun ini kami telah memutuskan untuk tidak menghadiri acara itu,” kata Abdurrahman Akyuz, dari International Wushu Federation Turki, seperti dikutip Onislam.net dari The Anadolu Agency,
Jumat (1/5).

Akyuz menekankan bahwa keputusan itu dibuat untuk memprotes aturan baru Federasi Wushu Eropa yang melarang atlet perempuan mengenakan jilbab dalam kompetisi.

“Turki tidak lagi mengakui Federasi Wushu Eropa dan sudah menyatakan hal ini kepada International Wushu Federation,” tambahnya.

Selain itu, ia mengatakan, Italia dan Prancis juga telah memutuskan untuk keluar dari Federasi Wushu Eropa dengan alasan “mal-administrasi”.

Bagi atlet Muslim Turki, Kompetisi wushu menyimpan memori buruk. Pada 2013, putri Akyuz yang juga atlet nasional Turki, Zeynep Akyuz, tidak mendapatkan nilai apapun ketika dia tampil dalam kompetisi karena mengenakan jilbab. Federasi mengatakan kostum Zeynep tidak sesuai dengan aturan federasi.

Baca :
Bukit Terindah di Sembalun

Sebagai tanggapan, Zeynep Akyuz mengatakan bahwa keputusan Federasi Wushu Eropa untuk melarang atlet wanita memakai jilbab adalah tidak sopan untuk dunia Islam.

Seorang pejabat senior dari Federasi Wushu Turki mengatakan pada Rabu (29/4), “Turki tidak akan berpartisipasi dalam acara yang diselenggarakan oleh Federasi Wushu Eropa karena adanya larangan wanita mengenakan jilbab.”

Islam memandang mengenakan jilbab sebagai kewajiban dalam berpakaian, bukan simbol yang menunjukkan afiliasi seseorang.

Sumber : Salam Online

Catatan Lombok Post terkait Sitti Rohmi Djalillah

HAMDANI WATHONI, Wartawan Lombok Post mencatat bahwa Rektor Universitas Hamzanwadi Dr. Sitti Rohmi Djalillah menjadi salah satu figur perempuan yang digadang sebagai calon kuat dalam Pilgub NTB mendatang. Bagaimana sosok akademisi yang juga kakak dari Gubernur NTB HM Zainul Majdi ini? Berikut catatannya

Judul Utama : Lebih Dekat dengan Sitti Rohmi Djalillah (1)
Sumber : Lombok Post

Raut wajahnya teduh. Dalam setiap kata yang dia ucapkan, sebagian besar diakhiri dengan  senyum tipis. Anak pertama dari almarhum HM. Djalaluddin dan Siti Rauhun ini merupakan kakak dari Gubernur NTB Dr HM Zainul Majdi dan empat saudara lainnya.

Ditemui Lombok Post di ruangannya, Dr Sitti Rohmi Djalillah masih terlihat sibuk dengan sejumlah urusan di Universitas. Namun, ia berupaya meluangkan waktunya. Dalam balutan hijab biru, ia masih nampak anggun di usianya yang hampir setengah abad.

Rohmi, sapaannya lahir di Pancor 29 Nopember 1968. Namun demikian, ia tumbuh besar di Mataram di kediaman orang tuanya. Ia menghabiskan mas kanak-kanak di SDN 3 Mataram kemudian SMPN 2 Mataram dan SMAN 1 Mataram.

Sejak duduk di bangku kelas  SD hingga SMA, istri Ketua DPRD Lotim H Khairul Rizal ini adalah langganan juara umum di sekolahnya. Apa rahasianya? Rohmi pun mengungkap bagaimana ia berhasil mendapatkan sejumlah prestasi yang diraihnya. “Semua biasa saja tidak ada yang istimewa. Semua berjalan apa adanya karena orang tua memang mendidikkami hidup sederhana,” tuturnya membuka percakapan.

Diceritakan Rohmi bagaimana kehidupan dirinya bersama keluarganya sejak masa kecil. Ia mengaku dididik dalam penuh kesederhanaan namun mengedepankan agama sebagai yang utama. Misalnya saja kewajiban untuk salat berjamaah, di waktu subuh, maghrib dan isya.

“Tiga waktu tersebut wajib berjamaah. Ini yang saya rasakan ditekankan oleh kedua orang tua saya. Kalau untuk masalah pelajaran, nggak ada yang khusus. Lebih banyak waktunya belajar di sekolah. Kalau di rumah sih lebih banyak mainnya seperti anak pada umumnya,” bebernya tersenyum.

Selain itu, keluarganya dikatakannya memiliki kebiasan untuk wajib sarapan, makan siang hingga makan malam bersama-sama di rumah. Kebersamaan dalam keluarga dalam sebuah kesederhanaan menjadi sebuah konsep yang sangat dijaga oleh ayahnya.

“Kami itu juga oleh beliau didik disiplin. Kalau misalnya ngatur waktu itu harus pintar, yang paling utama jangan tinggal salat. Lebih baik tinggal yang lain,” akunya.

Meski demikian, menurutnya keluarganya tidak seperti yang dibayangkan banyak orang. Meski hidup dalam dunia pendidikan Islam pesantren, ia merasa hidup normal seperti anak pada umumnya. Tidak melulu berkutat dalam kesibukan belajar.

“Tidak seperti yang dibayangkan. Waktunya main ya main, waktu sekolah ya sekolah. Itu pak tuan guru (TGB, Red) dia mainnya minta ampun. Lapangan Sangkareang itu sudah jadi daerah kekuasaannya untuk main. Nggak melulu kok belajar agama,” ceritanya.

Keseharian Rohmi semasa kecil dijalani seperti anak seusianya. Tidak ada perlakuan istimewa meskipun saat itu ia adalahanak seorang pejabat pemerintah daerah. “Kami nggak pernah merasa kalau kami ini anak pejabat. Nggak  pakai fasilitas mobil bapak untuk ke sekolah. Saya jalan kaki dari rumah ke sekolah, kadang kalau panas naik bemo,” kenangnya.

Prestasi di SD berlanjut ketika duduk di bangku SMPN 2 Mataram. Dimana ia sempat khawatir bahwa di sekolah yang menjadi salah satu sekolah favorit di Kota Mataram tersebut tak lagi bisa juara.

“Alhamulillah ternyata dapat juara umum juga. Padahal pesaingnya berasal dari sejumlah sekolah ternama yang ada di Kota Mataram,” akunya.

Berhasil meraih juara umum saat itu, ia pun dihadiahi ayahnya sepeda motor Yamaha Super Cup 800. Dimana hadiah ini menjadi sesutau hal yang paling berharga menurutnya. “Itu saya gunakan sampai tamat kuliah S1 di ITS Surabaya. Bahagianya bukan main. Hadiah itu membuat saya termotivasi untuk terus juara hingga di bangku SMA,” tuturnya (Bersambung/r2).

NEWS