Mataram: Komisi Pemilihan Umum Daerah Nusa Tenggara Barat (KPU NTB) menetapkan hasil rekapitulasi perhitungan suara pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (pilkada) NTB, Minggu (8/6/2018) malam.
Hasil rekapitulasi tercatat paslon nomor urut tiga yang dimana pasangan ini merupakan satu-satunya yang menggandeng perempuan sebagai wakil gubernur yaitu pasangan Zulkieflimansyah dan Siti Rohmi Djalillah, yang diusung PKS dan Demokrat, dinyatakan unggul atau memiliki suara terbesar dibandingkan tiga paslon lainnya, dengan perolehan 811.945 suara.
Menyusul paslon nomor urut satu Suhaili-Amin yang diusung Golkar, PKB dan Nasdem meraih 674.602 suara, paslon nomor urut dua Ahyar Abduh-Mori Hanapi, yang diusung PDIP, PPP, PAN dan Geribdra mengantongi 637.048 suara dan paslon independen atau nomor urut empat Ali Bin Dachlan-Gede Sakti hanya meraih 430.007 suara.
Penetapan rekapitulasi hasil pilkada NTB dilaksanakan di Hotel Lombok Raya Mataram dengan pengawalan ketat aparat Kepolisian dan TNI.
KPU NTB memberikan kesempatan pada pihak yang keberatan untuk mengajukan Perselisihan Hasil Pemilihan (PHP) ke Mahkamah Konstitusi (MK) dalam tiga hari ke depan setelah penetapan rekaputulasi hasil pilgub.
“JIka tak ada yang mengajukan maka KPU akan segera menetapkan paslon gubernur dan wakil gubernur NTB terpiih,” jelas Ketua KPU NTB Aksar Anshari.
Tidak ditandatanganinya penetapan rekapitulasi hasil pilkada NTB oleh tiga saksi paslon, kata Anshari tidak akan berpengaruh pada proses yang akan dijalankan KPU selanjutnya.
“Ketika ada yang tidak menandatangani, itu sah. Kami berikan ruang terbuka untuk menyakan pendapat, melakukan klarifikasi, dan lain lain, sebagai bentuk pertangungjawaban. Bahkan tidak akan ada masalah jika semua saksi tidak menandatani, hasil rekapitulasi ini sah,” tegas Anshari.
Terkait formulir C6 yang dipermasalahkan para saksi, baik KPU maupun Bawaslu NTB memiliki pandangan yang sama, bahwa sebanyak 291.000 formulir C6 KWK memang harus dikembalikan untuk mengantisipasi adanya pemilih siluman.
“Ini mencegah disalahgunakannya formulir C6, justru jika tidak dikembalikan, maka itu masalah, akan ada pemilih fiktif,” katanya.
Sumber :
(Kompas/dik)
CARI DI BLOG INI
Memaparkan catatan dengan label Kiprah Perempuan. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Kiprah Perempuan. Papar semua catatan
Lisa Widodo, Perempuan Hebat Dibalik Biblidotcom
Dilansir dari IDNTimes. Berlatar belakang jurusan Mechanical Engineering, Lisa Widodo, lulusan Honours dari The University of Texas di Austin dan MSc dalam Materials Science and Mechanical Engineering dari Universitas yang sama.
Lisa yang sempat memimpin beberapa proyek penting sebagai Project and Process Engineer di SEMATECH, USA kemudian memutuskan kembali ke Indonesia di tahun 2005 karena ingin mulai berkontribusi lebih banyak kepada Indonesia dalam kapasitas yang dimiliki.
Sejak didirikan di tahun 2011, hingga berhasil menjadi salah satu perusahaan e-commerce yang terkemuka saat ini, Blibli.com adalah perusahaan yang selalu memiliki mimpi untuk dapat memberdayakan para generasi Indonesia melalui ekosistem e-commerce.
“Saya menyadari bahwa tujuan hidup saya adalah menggunakan apa yang sudah dipelajari dan dapatkan dari pengalaman selama di Amerika, berpartisipasi untuk mengembangkan Indonesia. Saya ingin membangun bangsa ini”, kata Senior Vice President of Operations dan Senior Vice President of Product Management Blibli.com. “Saat ini saya merasa sudah terpenuhi karena bekerja untuk perusahaan yang juga sangat mencintai Indonesia dan berbagi mimpi untuk memberdayakan Indonesia”, Lisa menambahkan.
Lisa Widodo yang kini juga adalah seorang Ibu dari 2 orang putri ini mengungkapkan bahwa dirinya sama sekali tidak pernah berpikir untuk terjun ke industri digital dan teknologi. Semuanya terjadi begitu saja, seperti sudah ada yang mengarahkan. Saat masih menjadi mahasiswa di jurusan teknik mesin, untuk berkesempatan mendapatkan in-state tuition (biaya kuliah yang 3x lebih murah dari biaya kuliah Internasional), Lisa harus bekerja selama 20 jam per minggu.
Pekerjaan yang dia dapat adalah bekerja di laboratorium komputer dengan pekerjaan teknis terkait infrastruktur. Selanjutnya, setelah lulus gelar Master of Mechanical Engineering, Lisa mendapatkan pekerjaan yang terkait dengan masa depan semikonduktor, yang biasanya hanya diberikan kepada lulusan Electrical Engineering, dimana Ia melakukan beragam eksperimen dan menulis publikasi tentang silicon wafers yang merupakan dasar mikroprosesor yang digunakan untuk banyak perangkat hardware.
Begitupun pada saat bekerja di Citi Indonesia, Lisa terlibat dalam departemen Operations and Technology. Hingga pada akhirnya Lisa mendapatkan kesempatan bergabung dengan Blibli.com untuk membangun e-commerce yang berpotensi untuk menjadi yang terbaik di Indonesia. “Intinya, saya adalah orang yang percaya dan mendengarkan kata hati meskipun banyak pengalaman yang saya alami adalah pengalaman baru juga untuk saya", jelasnya lagi.
Banyaknya pengalaman yang sudah ia rasakan di dunia digital dan teknologi, Lisa Widodo mengakui bahwa perkembangan teknologi sekarang lebih cepat dari kecepatan cahaya
Lisa Widodo Ingin Memberdayakan Generasi Indonesia Melalui Teknologitwitter.com/bliblidotcom
Masih banyak peluang dan ruang luas untuk eksplorasi. Secara pribadi ia sangat terbuka terhadap segala perubahan yang menawarkan kemudahan, kenyamanan dan efisiensi waktu dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyayangkan bahwa di luar sana masih banyak yang menutup diri untuk merangkul dunia digital.
“menjadi salah satu pendukung dan good ambassador bagi banyak orang di sekitar juga merupakan bagian tanggung jawab saya berada di industri digital’, tambahnya.
Sementara tanggung jawabnya secara profesional adalah untuk memastikan ekosistem yang sehat, artinya tidak ada perilaku abusif atau aktifitas fraud di dalam ekosistemnya. “Kita semua bertanggungjawab untuk memastikan bahwa ekosistem sangat penting untuk kelanjutan dan masa depan digitalisasi”.
Lisa bersyukur menjadi salah satu wanita yang memiliki kesempatan untu berkarier di dunia digital dan teknologi, bahkan lanjutnya lagi berdasarkan survey Nielsen, wanita lebih banyak melakukan aktivitas digital dibanding pria. Karena wanita senang bersosialisasi, menggunakan jejaring sosial, membagi pengalamanannya lewat blog, mecoba belanja online dan berpartisipasi survey dan ulasan produk. Wanita lebih mengerti tentang wanita, dan hal tersebut adalah terbaik menurutnya.
Sumber IDNTimes.com
Lisa yang sempat memimpin beberapa proyek penting sebagai Project and Process Engineer di SEMATECH, USA kemudian memutuskan kembali ke Indonesia di tahun 2005 karena ingin mulai berkontribusi lebih banyak kepada Indonesia dalam kapasitas yang dimiliki.
Sejak didirikan di tahun 2011, hingga berhasil menjadi salah satu perusahaan e-commerce yang terkemuka saat ini, Blibli.com adalah perusahaan yang selalu memiliki mimpi untuk dapat memberdayakan para generasi Indonesia melalui ekosistem e-commerce.
“Saya menyadari bahwa tujuan hidup saya adalah menggunakan apa yang sudah dipelajari dan dapatkan dari pengalaman selama di Amerika, berpartisipasi untuk mengembangkan Indonesia. Saya ingin membangun bangsa ini”, kata Senior Vice President of Operations dan Senior Vice President of Product Management Blibli.com. “Saat ini saya merasa sudah terpenuhi karena bekerja untuk perusahaan yang juga sangat mencintai Indonesia dan berbagi mimpi untuk memberdayakan Indonesia”, Lisa menambahkan.
Lisa Widodo yang kini juga adalah seorang Ibu dari 2 orang putri ini mengungkapkan bahwa dirinya sama sekali tidak pernah berpikir untuk terjun ke industri digital dan teknologi. Semuanya terjadi begitu saja, seperti sudah ada yang mengarahkan. Saat masih menjadi mahasiswa di jurusan teknik mesin, untuk berkesempatan mendapatkan in-state tuition (biaya kuliah yang 3x lebih murah dari biaya kuliah Internasional), Lisa harus bekerja selama 20 jam per minggu.
Pekerjaan yang dia dapat adalah bekerja di laboratorium komputer dengan pekerjaan teknis terkait infrastruktur. Selanjutnya, setelah lulus gelar Master of Mechanical Engineering, Lisa mendapatkan pekerjaan yang terkait dengan masa depan semikonduktor, yang biasanya hanya diberikan kepada lulusan Electrical Engineering, dimana Ia melakukan beragam eksperimen dan menulis publikasi tentang silicon wafers yang merupakan dasar mikroprosesor yang digunakan untuk banyak perangkat hardware.
Begitupun pada saat bekerja di Citi Indonesia, Lisa terlibat dalam departemen Operations and Technology. Hingga pada akhirnya Lisa mendapatkan kesempatan bergabung dengan Blibli.com untuk membangun e-commerce yang berpotensi untuk menjadi yang terbaik di Indonesia. “Intinya, saya adalah orang yang percaya dan mendengarkan kata hati meskipun banyak pengalaman yang saya alami adalah pengalaman baru juga untuk saya", jelasnya lagi.
Banyaknya pengalaman yang sudah ia rasakan di dunia digital dan teknologi, Lisa Widodo mengakui bahwa perkembangan teknologi sekarang lebih cepat dari kecepatan cahaya
Lisa Widodo Ingin Memberdayakan Generasi Indonesia Melalui Teknologitwitter.com/bliblidotcom
Masih banyak peluang dan ruang luas untuk eksplorasi. Secara pribadi ia sangat terbuka terhadap segala perubahan yang menawarkan kemudahan, kenyamanan dan efisiensi waktu dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyayangkan bahwa di luar sana masih banyak yang menutup diri untuk merangkul dunia digital.
“menjadi salah satu pendukung dan good ambassador bagi banyak orang di sekitar juga merupakan bagian tanggung jawab saya berada di industri digital’, tambahnya.
Sementara tanggung jawabnya secara profesional adalah untuk memastikan ekosistem yang sehat, artinya tidak ada perilaku abusif atau aktifitas fraud di dalam ekosistemnya. “Kita semua bertanggungjawab untuk memastikan bahwa ekosistem sangat penting untuk kelanjutan dan masa depan digitalisasi”.
Lisa bersyukur menjadi salah satu wanita yang memiliki kesempatan untu berkarier di dunia digital dan teknologi, bahkan lanjutnya lagi berdasarkan survey Nielsen, wanita lebih banyak melakukan aktivitas digital dibanding pria. Karena wanita senang bersosialisasi, menggunakan jejaring sosial, membagi pengalamanannya lewat blog, mecoba belanja online dan berpartisipasi survey dan ulasan produk. Wanita lebih mengerti tentang wanita, dan hal tersebut adalah terbaik menurutnya.
Sumber IDNTimes.com
Daftar Pencarian
- perempuan hebat dunia
- artikel wanita tangguh
- kamu wanita hebat
- menjadi perempuan hebat
- perempuan hebat indonesia
- jadilah wanita yang hebat
- ciri-ciri wanita hebat
- kata kata perempuan hebat
Menguak Karakter Perempuan Hebat Zaman Millineal
Dilanlir dari IDNTimes : Hi ladies, sebelum membahas kenapa sih cewek yang punya rasa percaya diri itu keren, IDNtimes mau nanya nih: “Apakah kamu sering merasa kurang cantik?”, “Tidak percaya dengan kemampuanmu sendiri?” atau mungkin “ Selalu merasa gak punya kelebihan?”
Jika jawabannya ya , maka bisa jadi sekarang ini kamu lagi mengalami yang namanya krisis kepercayaan diri.
Mmm sebetulnya kurangnya rasa peraca diri yang datang sesekali itu wajar terjadi. Tapi kalau terlalu sering justru dampaknya malah gak positif sama sekali loh. Nah untuk membantumu mengetahui kenapa sih cewek yang punya percaya diri tinggi itu baik, berikut IDNtimes sudah punya ulasan spesialnya untukmu:
Itu tadi 10 hal yang membuat cewek dengan rasa percaya diri, selalu memiliki nilai positif di mata orang lain. Jadi, mulai sekarang IDNtimes harap kamu bisa lebih percaya pada kemampuanmu ya.
Sumber : IDNTimes.com
Jika jawabannya ya , maka bisa jadi sekarang ini kamu lagi mengalami yang namanya krisis kepercayaan diri.
Mmm sebetulnya kurangnya rasa peraca diri yang datang sesekali itu wajar terjadi. Tapi kalau terlalu sering justru dampaknya malah gak positif sama sekali loh. Nah untuk membantumu mengetahui kenapa sih cewek yang punya percaya diri tinggi itu baik, berikut IDNtimes sudah punya ulasan spesialnya untukmu:
- 1. Cewek dengan rasa percaya diri tinggi biasanya berani keluar dari zona nyaman. Ia tidak takut dengan berbagai tantangan yang datang.
- 2. Tidak hanya berani menjawab tantangan, cewek seperti ini juga akan berani mengeluarkan pendapatnya secara terbuka.
- 3. Selalu tampil apa adanya adalah kelebihan dari cewek yang percaya diri. Ia selalu bangga dengan apa yang dia punya.
- 4. Rasa percaya diri yang pada dirinya membuat orang-orang sekitar juga percaya pada kemampuannya. Cewek seperti ini akan mudah meyakinkan rekan kerjanya bahwa ia punya kemampuan.
- 5. Mudah bergaul serta memiliki jaringan pertemanan yang luas adalah ciri dari cewek yang punya rasa percaya diri. Perempuan seperti ini biasanya mudah membuat orang lain merasa nyaman.
- 6. Seorang yang memiliki rasa percaya diri tinggi tidak takut menghadapi gagal. Bila tak berhasil melakukan sesuatu ia akan melihatnya sebagai proses pembelajaran.
- 7. Ketika menerima kritik, cewek seperti ini juga tak akan langsung kehilangan semangat diri. Rasa percaya pada kemampuannya membuat semangat mudah datang kembali.
- 8. Saat harus berkompetisi dengan orang lain yang lebih hebat, ia tak langsung hilang harapan. Sekecil apapun kesempatan yang ada untuk menang, dia tidak akan patah arang.
- 9. Bagi banyak pria, cewek dengan rasa percaya diri terlihat sangat menarik karena dia mampu tampil apa adanya.
- 10. Walau keberhasilan belum ada di genggaman, cewek dengan percaya diri tidak akan berhenti berjuang. Dia senantiasa percaya bahwa suatu saat nanti kesuskesan akan datang.
Itu tadi 10 hal yang membuat cewek dengan rasa percaya diri, selalu memiliki nilai positif di mata orang lain. Jadi, mulai sekarang IDNtimes harap kamu bisa lebih percaya pada kemampuanmu ya.
Sumber : IDNTimes.com
Daftar Pencarian
- perempuan hebat dunia
- artikel wanita tangguh
- kamu wanita hebat
- menjadi perempuan hebat
- perempuan hebat indonesia
- jadilah wanita yang hebat
- ciri-ciri wanita hebat
- kata kata perempuan hebat
Pesan Lawe untuk Perempuan Penenun
Perempuan cantik yang berkantor di Jln. Prof. Dr Ki Amri Yahya No.6 Yogyakarta itu mengajak kreatif nine se Indonesia, khususnya Lombok agar istiqomah meningkatkan kekayaan budaya. “Kekayaan Budaya itu jangan hanya jadi cerita,jadi harus dilestarikan,”katanya sembari mengajak dan mendorong komunitas untuk belajar berkesinambungan.
Adinindyah dengan nama 10 huruf itu juga didatangkan khusus oleh Rimbawan Muda Indonesia (RMI) dan Gema Alam NTB ini juga membaca potensi besar melihat peserta pelatihan yang sangat antusias dan muda. “Potensinya besar ya, karena teman-teman masih muda, banyak generasinya,” kesannya (konzon.IV)
Baca Informasi Terkait
Terimakasih Kelompok Tenun untuk Konsorsium
Kepoin Pelatihan Ragam Produk Tenun di Pringgesela
Kiprah Tenun Pringgesela Ala Tamu dari Jogja
Pesan Lawe untuk Perempuan Penenun
Audisi PB Jarum dan Keistiqomahan Atlet Berjilbab
NINEBISA.NET. Ada satu hal menarik pada tahap awal audisi umum pemain bulu tangkis di Kudus. Terlihat sejumlah peserta untuk katogori usia 11 tahun (U-11) putri yang menggunakan jilbab.
Vika Verlita (8) adalah salah satunya. Siswa Madrasah Ibtidaiyah, Nuru Shofa, di Desa Karangbener, Bae, Kudus, bersama sekitar dua temannya memang baru kali pertama mengikuti audisi beasiswa bulutangkis yang digelar tahunan.
Sejauh ini, memang belum ada pebulutangkis putri Indonesia yang mengenakan jilbab. Tetapi sebenarnya adakah peluang bagi mereka yang berjilbab menjadi atlet bulutangkis?
Baca :
"Itu keyakinan masing-masing. Kalau kami melihatnya bermain bulutangkis, yang memerlukan suatu pergerakan yang bebas, agak menganggu. Tetapi, kalau yang bersangkutan merasa nyaman-nyaman saja, ya kami menghormati," ujar Manager Tim PB Djarum, Fung Permadi, dikutip dari Antara, Rabu (6/9/2017).
Dia menegaskan tak ada halangan bagi mereka yang berjilbab mengikuti audisi PB Djarum. Tentunya, jika mereka memiliki kompetensi yang dibutuhkan tim pencari bakat pasti ada kesempatan, tutur Fung.
"Pasti bisa, tetapi kriterianya dari sisi kemampuan dan kemauannya sendiri. Tadi ada dua yang mengenakan jilbab di audisi awal tahap awal. Dari sisi kemampuan mereka terlalu mendasar, seperti baru belajar memukul (bola kok) dan belum lama menekuni olahraga bulutangkis," kata Fung.
Sementara itu, Farida, guru olahraga yang mendampingi Vika, mengatakan sekalipun masih pemula, namun anak didiknya itu sudah bisa setidaknya memegang raket dan melakukan servis bola.
Kemudian, mengenai kondisi Vika yang mengenakan jilbab, dia mengatakan tak ada masalah sejauh ini.
"Tidak ada halangan mengenakan jilbab dipersulit mengikuti pertandingan. Dia kan mengenakan celana training panjang, jilbab langsung yang nyaman dan tidak menganggu pergerakannya," tutur Farida.
Disadur dari http://uzone.id/perempuan-berjilbab-bisa-jadi-atlet-bulutangkis/
Vika Verlita (8) adalah salah satunya. Siswa Madrasah Ibtidaiyah, Nuru Shofa, di Desa Karangbener, Bae, Kudus, bersama sekitar dua temannya memang baru kali pertama mengikuti audisi beasiswa bulutangkis yang digelar tahunan.
Sejauh ini, memang belum ada pebulutangkis putri Indonesia yang mengenakan jilbab. Tetapi sebenarnya adakah peluang bagi mereka yang berjilbab menjadi atlet bulutangkis?
Baca :
Pak Kyai Salah Sangka dalam Pertarungan Tinju
"Itu keyakinan masing-masing. Kalau kami melihatnya bermain bulutangkis, yang memerlukan suatu pergerakan yang bebas, agak menganggu. Tetapi, kalau yang bersangkutan merasa nyaman-nyaman saja, ya kami menghormati," ujar Manager Tim PB Djarum, Fung Permadi, dikutip dari Antara, Rabu (6/9/2017).
Dia menegaskan tak ada halangan bagi mereka yang berjilbab mengikuti audisi PB Djarum. Tentunya, jika mereka memiliki kompetensi yang dibutuhkan tim pencari bakat pasti ada kesempatan, tutur Fung.
"Pasti bisa, tetapi kriterianya dari sisi kemampuan dan kemauannya sendiri. Tadi ada dua yang mengenakan jilbab di audisi awal tahap awal. Dari sisi kemampuan mereka terlalu mendasar, seperti baru belajar memukul (bola kok) dan belum lama menekuni olahraga bulutangkis," kata Fung.
![]() |
| Atlet Berjilbab,salamonline.com |
Kemudian, mengenai kondisi Vika yang mengenakan jilbab, dia mengatakan tak ada masalah sejauh ini.
"Tidak ada halangan mengenakan jilbab dipersulit mengikuti pertandingan. Dia kan mengenakan celana training panjang, jilbab langsung yang nyaman dan tidak menganggu pergerakannya," tutur Farida.
Disadur dari http://uzone.id/perempuan-berjilbab-bisa-jadi-atlet-bulutangkis/
Kelompok Nine Tenun Pringgesela Dapatkan Hibbah Bergulir Koperasi Hijau
![]() |
| Potret Produk Nine Tenun Pringgesela |
Baca Informasi Terkait di
www.gemaalamntb.org
www.ninebisa.blogspot.com
www.lombokepo.blogspot.com
www.juwitour.blogspot.com
"Penyaluran dana bergulir ini bertujan untuk menambah modal usaha kelompok Nina Tenun," kata Gema Alam NTB melalui Devisi Tata Kelola (Tala). Dengan bantuan modal ini kelompok diharapkan semakin termotivasi untuk lebih giat mengembangkan usahanya agar dapat menambah sumber pendapatannya.
Kelompok Nina Tenun merupakan kumpulan perempuan-perempuan penenun yang ada di Desa Pringgasela Selatan. Kelompok ini menggeluti usaha tenun bukan semata-mata untuk menambah pendapatan, akan tetapi pengembangan usaha tenun ini lebih kepada bagaimana menjaga dan melestarikan tenun sebagai warisan budaya yang memiliki nilai filosofis tinggi dalam kehidupan masyarakat Desa Pringgasela Selatan.
Jumlah dana yang digulirkan tidaklah besar yaitu Rp.2.000.000/orang. Dana tersebut dikembalikan dengan cara mencicil setiap bulan dalam jangka waktu 6 bulan. Setiap peminjam dikenakan jasa 0,5% atau Rp.10.000/bulan. Meskipun aturan cicilannya dilakukan setiap bulan, namun kelompok tidak disanksi denda jika mengalami keterlambatan dalam menyetor cicilan.
Untuk mendapatkan bantuan dana bergulir ini, tidak mensyaratkan adanya jaminan, yang penting masyarakat memiliki kemauan untuk berusaha dan memiliki usaha yang jelas. Meskipun begitu, penyalurannya tidak dapat dilakukan begitu saja.
Tetapi harus melalui proses penilaian kelayakan yang dinilai oleh Gema Alam dan kelayakannya disetujui oleh GMI. Selanjutnya, jika calon penerima dana sudah disetuju, Koperasi Hijau Gema Alam sebagai penyalur kemudian membuat “Akad” atau kesepakatan antara koperasi dengan penerima dana. Setelah akad selesai, barulah kemudian dilakukan pencairan dana.
Kerjasama Gema Alam dengan GMI tidak hanya sebatas pada penyaluran bantuan dana bergulir, tetapi kemitraan ini juga akan melakukan penguatan kapsitas kelompok melalui pendampingan, pelatihan dan perluasan pasar secara berkelanjutan sampai pada kelompok memiliki kemandirian.
Pemberian dana bergulir ini bukan semata-mata untuk menambah modal usaha kelompok, tetapi mengajak masyarakat untuk menciptakan system permodalan yang lebih sehat, yang mengedepankan prinsip keterbukaan, kebersamaan, saling percaya dan kesetaraan.
Harapannya, system ini dapat menjadi alternative permodalan sehingga kelompok dapat terhindar dari praktek-praktek permodalan yang tidak fair, rentenir dan ekploitatif.
Kerjasama Gema Alam dengan GMI Jerman akan dilakukan secara berkelanjutan, namun sangat tergantung dari sejauh mana tingkat keberhasilan pengembangan system ini. Oleh karena itu, pada periode pertama ini dimulai dari dua desa, yaitu Desa Pringgasela Selatan dengan kelompok Nina Tenunnya dan Desa suela dengan FORMULA (Forum Pemuda Desa Suela).
Sitti Rohmi Jadi Dambaan Remaja
AGENDA. Rektor Universitas Hamzanwadi Pancor, Dr. Hj. Ummi Sitti Rohmi Djalillah menjadi dambaan para remaja. Hal ini disampaikan langsung oleh Admin Relawan Sitti Rohmi Djalillah (Relasi) dalam Fun Page Resminya "Relasi"
"Saking bangganya dapat komunikasi langsung, ada yang menangis bahagia dengan pelukan erat dan banyak pula yang selfi," demikian Relasi
Dalam photo-photo yang di post itu, tampak remaja tersenyum seperti gambar. Potret tersebut menunjukkan betapa berharapnya para remaja dengan pigur Sitti Rohmi yang peduli dengan perkembangan generasi.
Dalam photo-photo yang di post itu, tampak remaja tersenyum seperti gambar. Potret tersebut menunjukkan betapa berharapnya para remaja dengan pigur Sitti Rohmi yang peduli dengan perkembangan generasi.
Calon Kades Perempuan ini Sanjung Perjuangan Sitti Rohmi
![]() |
| Potret Diskusi |
Sitti Rohmi Jalillah dikenalnya sebagai tokoh yang berani mengangkat harkat dan martabat perempuan di mata-mata para elit pemerintahan.
“Secara langsung beliau menjadi panutan kami untuk ikut andil dalam pembangunan daerah terutama pembangunan yang terkait dengan Sumber Daya Manusia,” tuturnya.
Nur’ Saidah, demikian nama lengkapnya dalam diskusi komunitas (24/08) menyampaikan sorotannya soal pembangunan saat ini banyak yang hanya fokus dengan pembangunan fisik saja.
Baca Catatan LUCKY SANDRA AMALIA
“Pembangunan Fisik memang penting, namun apa artinya pembangunan fisik jika yang menempati dan menerima hasilnya hanya orang-orang berduit saja,” lanjutnya.
Disinggung soal Sitti Rohmi Djalillah yang disanjung serta di dukungnya untuk Pilgub 2018 mendatang, Calon Kades yang siap bertarung 3 bulan lagi ini menjawab simpel, “Beliau kaum saya, dia muda, dan insyaAllah tidak pikun untuk mandat pemberdayaan generasi-generasi hebat yang akan membantu pembangunan NTB,”ketusnya. (Kont Zona IV)
Perempuan Inspiratif Menuju Ikhtiar NTB Satu
![]() |
| Sumber : Facebook Assagaf Hamdi |
Lombok Post juga mencatat bahwa Rektor Universitas Hamzanwadi ini kini menjadi salah satu figur perempuan yang digadang sebagai calon kuat dalam Pilgub NTB mendatang.
Lebih lengkap, Jawa Post Group itu juga membaca bahwa Tokoh Perempuan ini memiliki wajah yang teduh. Dalam setiap kata yang dia ucapkan, sebagian besar diakhiri dengan senyum tipis. Anak pertama dari almarhum HM. Djalaluddin dan Siti Rauhun ini merupakan kakak dari Gubernur NTB Dr HM Zainul Majdi dan empat saudara lainnya.
Dr. Sitti Rohmi Djalilah lahir di Pancor 29 Nopember 1968. Namun demikian, ia tumbuh besar di Mataram di kediaman orang tuanya. Ia menghabiskan mas kanak-kanak di SDN 3 Mataram kemudian SMPN 2 Mataram dan SMAN 1 Mataram.
Sejak duduk di bangku kelas SD hingga SMA, istri Ketua DPRD Lotim H Khairul Rizal ini adalah langganan juara umum di sekolahnya. Apa rahasianya? Rohmi pun mengungkap bagaimana ia berhasil mendapatkan sejumlah prestasi yang diraihnya. “Semua biasa saja tidak ada yang istimewa. Semua berjalan apa adanya karena orang tua memang mendidikkami hidup sederhana,” tuturnya membuka percakapan.
Diceritakan Rohmi bagaimana kehidupan dirinya bersama keluarganya sejak masa kecil. Ia mengaku dididik dalam penuh kesederhanaan namun mengedepankan agama sebagai yang utama. Misalnya saja kewajiban untuk salat berjamaah, di waktu subuh, maghrib dan isya. “Tiga waktu tersebut wajib berjamaah. Ini yang saya rasakan ditekankan oleh kedua orang tua saya. Kalau untuk masalah pelajaran, nggak ada yang khusus. Lebih banyak waktunya belajar di sekolah. Kalau di rumah sih lebih banyak mainnya seperti anak pada umumnya,” bebernya tersenyum.
Selain itu, keluarganya dikatakannya memiliki kebiasan untuk wajib sarapan, makan siang hingga makan malam bersama-sama di rumah. Kebersamaan dalam keluarga dalam sebuah kesederhanaan menjadi sebuah konsep yang sangat dijaga oleh ayahnya.
“Kami itu juga oleh beliau didik disiplin. Kalau misalnya ngatur waktu itu harus pintar, yang paling utama jangan tinggal salat. Lebih baik tinggal yang lain,” akunya.
Meski demikian, menurutnya keluarganya tidak seperti yang dibayangkan banyak orang. Meski hidup dalam dunia pendidikan Islam pesantren, ia merasa hidup normal seperti anak pada umumnya. Tidak melulu berkutat dalam kesibukan belajar.
“Tidak seperti yang dibayangkan. Waktunya main ya main, waktu sekolah ya sekolah. Itu pak tuan guru (TGB, Red) dia mainnya minta ampun. Lapangan Sangkareang itu sudah jadi daerah kekuasaannya untuk main. Nggak melulu kok belajar agama,” ceritanya.
Keseharian Rohmi semasa kecil dijalani seperti anak seusianya. Tidak ada perlakuan istimewa meskipun saat itu ia adalahanak seorang pejabat pemerintah daerah. “Kami nggak pernah merasa kalau kami ini anak pejabat. Nggak pakai fasilitas mobil bapak untuk ke sekolah. Saya jalan kaki dari rumah ke sekolah, kadang kalau panas naik bemo,” kenangnya.
Prestasi di SD berlanjut ketika duduk di bangku SMPN 2 Mataram. Dimana ia sempat khawatir bahwa di sekolah yang menjadi salah satu sekolah favorit di Kota Mataram tersebut tak lagi bisa juara.
Berhasil meraih juara umum saat itu, ia pun dihadiahi ayahnya sepeda motor Yamaha Super Cup 800. Dimana hadiah ini menjadi sesutau hal yang paling berharga menurutnya. “Itu saya gunakan sampai tamat kuliah S1 di ITS Surabaya. Bahagianya bukan main. Hadiah itu membuat saya termotivasi untuk terus juara hingga di bangku SMA,” tuturnya
Sumber : Lombok Post
Luky Sandra Amalia, Perempuan dan Catatannya Soal Kiprah Perempuan
Secara kuantitas, perempuan di Indonesia berjumlah 101.625.816 jiwa atau menempati 51% dari seluruh penduduk Indonesia (BPS, 2000). Tetapi, karena konstruksi budaya dalam masyarakat membuat perempuan harus menempati posisi kedua setelah laki-laki.
Pembagian kerja berbasis jenis kelamin (gender based division of labor) telah melandasi terjadinya stratifikasi gender yang membuat perempuan hanya bekerja di sektor domestik sedangkan laki-laki di wilayah publik. Pekerjaan di sektor domestik seringkali dianggap lebih rendah daripada pekerjaan di wilayah publik, disamping juga dianggap sebagai pekerjaan yang tidak bernilai ekonomi (unpaid labor).
Oleh karena itu, aktivis perempuan tidak henti-hentinya berjuang untuk meningkatkan kesadaran perempuan yang secara sadar atau tidak sadar telah mengadopsi praktek-praktek patriarki, bahkan perempuan sendiri menerima keadaan tersebut sebagai kodrat (given).
Sebenarnya, bagaimana kiprah kaum perempuan di Indonesia, khususnya di bidang politik? Sejak kapan perjuangan perempuan di ranah politik dimulai dan bagaimana bentuknya? Untuk itu, tulisan ini akan menuturkan kiprah perempuan di ranah politik dari masa ke masa.
Perjuangan aktivis perempuan, sejatinya, telah dimulai jauh sebelum Republik Indonesia merdeka. Hal ini ditunjukkan dengan berdirinya organisasi-organisasi perempuan yang berkontribusi terhadap kemerdekaan Indonesia. Misalnya, organisasi Pawijatan Wanito di Magelang yang didirikan pada tahun 1915 dan PIKAT (Perantaraan Ibu kepada Anak Temurun) yang dibentuk di Manado pada tahun 1917. Selain itu, di Surabaya juga ada organisasi perempuan yang dikenal dengan Poetri Boedi sejak didirikan pada tahun 1919 (Suryochondro, 1999:3). Beberapa organisasi perempuan ini, setidaknya, memberikan inspirasi bagi gerakan kaum perempuan yang terus menjamur pada masa selanjutnya, yaitu masa setelah kemerdekaan hingga memasuki Orde Lama.
Perkembangan organisasi perempuan semakin tampak setelah lahirnya Kongres Wanita Indonesia (Kowani) pada tahun 1945. Kowani merupakan “reinkarnasi” dari organisasi perempuan yang didirikan pada tahun 1928, yaitu Perikatan Perkoempoelan Perempuan Indonesia (PPPI). Sayangnya, pada tahun 1965 Kowani menghadapi persoalan yang cukup serius, yaitu pimpinannya memiliki keberpihakan kepada G 30 S/PKI. Namun demikian, keadaan ini telah memunculkan organisasi perempuan baru sebagai bentuk respon atas peristiwa tersebut, yaitu Kesatuan Aksi Wanita Indonesia (Kawi). Tidak hanya itu, organisasi lain yang juga muncul adalah Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) yang beraliran komunis (Kompas,7 Oktober 1999).
Pada masa Orde Lama, selain organisasi juga muncul beberapa nama perempuan yang berkiprah dalam bidang politik, antara lain Kartini Kartaradjasa dan Supeni, dua nama yang terkenal dari Partai Nasional Indonesia (PNI). Tidak hanya itu, Partai Kristen Indonesia (Parkindo) juga memiliki tokoh perempuan yaitu Walandauw. Demikian halnya di Partai Nadhlatul Ulama juga ada nama Mahmuda Mawardi dan HAS Wachid Hasyim. Sementara itu, Salawati Daud merupakan tokoh perempuan terkenal dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Hal ini menunjukkan bahwa pada masa pemerintahan Orde Lama, keberadaan perempuan diperhitungkan di panggung politik. Namun, semua itu sirna seiring dengan berakhirnya masa kekuasaan rezim Orde Lama dan berganti dengan Orde Baru.
Masa transisi dari Orde Lama menuju Orde Baru merupakan saat yang sulit bagi pergerakan perempuan di Indonesia. Organisasi perempuan dianggap sebagai salah satu elemen yang harus diawasi dan dipasung atas nama kepentingan negara. Salah satu contoh nyata adalah gerakan penghancuran hingga ke akar-akarnya yang dilakukan terhadap Gerwani pada tahun 1965. Penghancuran ini dilakukan dengan cara politik pencitraan hingga di tingkat daerah dimana Gerwani dicitrakan sebagai sekumpulan perempuan kejam yang kerapkali menyilet dan menyiksa para korbannya.
Pada masa Orde Baru, organisasi perempuan disentralisasi oleh negara di bidang “keperempuanan”. Perempuan berperan sebagai istri pendamping suami, pendidik anak dan pembina generasi muda, serta pengatur ekonomi rumah tangga. Kalaupun ada perempuan yang bekerja di luar rumah, hanya dianggap sebagai pencari nafkah tambahan. Selain itu, kiprah perempuan di luar rumah juga difokuskan pada aktivitas sosial dan penyumbang tenaga pada masyarakat. Hal ini, tentu saja, semakin melanggengkan budaya patriarki.
Salah satu organisasi yang terkenal pada masa itu adalah Dharma Wanita yang berdiri pada tahun 1974 dan dikenal sebagai organisasi istri pegawai negeri. Organisasi ini juga terkenal dengan programnya yang disebut PKK (Pendidikan Kesejahteraan Keluarga). Demikian halnya dengan istri-istri ABRI juga tergabung dalam organisasi sesuai dengan bidang suaminya, antara lain Persit (Persatuan Istri Tentara) Candra Kirana bagi istri angkatan darat, Jalasenastri untuk istri angkatan laut, PIA Ardhya Garini bagi istri angkatan udara, dan Bhayangkari untuk istri anggota Polri.
Namun demikian, pada tahun 1980-an banyak bermunculan organisasi perempuan yang mencoba untuk keluar dari rumusan peran Orde Baru, diantaranya Yayasan Annisa Swasti (Yasanti) di Yogyakarta dan Yayasan Kalyanamitra di Jakarta. Yayasan ini bahkan memiliki jaringan hingga ke LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), yakni LSM Solidaritas Perempuan dan LSM Rifka Annisa. Perjuangan aktivis perempuan pada masa ini tidaklah mudah sebab di satu sisi mereka harus mengubah mindset kaum perempuan terhadap kesetaraan gender, dan di sisi lain mereka juga harus berhadapan dengan negara yang memiliki rumuan peran perempuan yang berbeda dengan perjuangan mereka.
Keberadaan organisasi perempuan semakin mendapat tempat seiring dengan runtuhnya rezim otoriter Orde Baru. Perjuangan aktivis perempuan untuk memperjuangkan hak kaum perempuan yang selama ini dipasung oleh pemerintah atas nama kepentingan negara semakin terbuka lebar. Organisasi perempuan terus bermunculan dalam berbagai bentuk, tidak hanya dalam bentuk ormas, yayasan, dan LSM, melainkan juga dalam bentuk women crisis center dan hotline.
Tidak hanya itu, partai politik pun tidak ketinggalan memasukkan unsur perempuan ke dalam bidang organisasinya maupun sayap organisasi yang dipimpin langsung oleh perempuan. Misalnya, Partai Golkar memiliki Kesatuan Perempuan Partai Golkar (KPPG), Partai Persatuan Pembangunan (PPP) memikili Wanita Persatuan, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memiliki Perempuan Kebangkitan Bangsa, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memiliki Departemen Urusan Pemberdayaan Perempuan (DUPP), Partai Amanat Nasional (PAN) memiliki Perempuan Amanat Nasional, dan masih banyak lagi.
Keberpihakan terhadap kaum perempuan juga ditunjukkan dengan amandemen UUD 1945 dan memuat unsur kesetaraan gender dalam bentuk persamaan hak dan kewajiban antar sesama warga negara dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam bidang hukum dan pemerintahan. Bahkan, pada saat pembentukan draft amandemen UUD 1945, organisasi perempuan juga dilibatkan di bawah koordinasi Komite Perempuan untuk Perdamaian dan Demokrasi. Hal ini diperkuat dengan UU RI Nomor 39 Tahun 1999, Pasal 46, tentang Hak Asasi Manusia yang menjamin keterwakilan perempuan, baik di legislatif, eksekutif, maupun yudikatif.
Tidak hanya itu, pemerintah Indonesia juga mengeluarkan Inpres Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional yang mengharuskan seluruh kebijakan dan Program Pembangunan Nasional dirancang dengan perspektif gender (Anshor, 2008). Sebelum itu, sebetulnya pemerintah Orde Baru telah meratifikasi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, Konvensi mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women-CEDAW) yang disahkan melalui UU R Nomor 7 Tahun 1984.
Namun demikian, perjuangan perempuan masih menemui jalan berliku karena hingga saat ini untuk mencapai wilayah publik (lembaga legislatif) harus melalui pintu partai politik sebagai satu-satunya mesin politik di Indonesia. Padahal, tidak semua partai politik berpihak kepada perempuan. Artinya, dunia politik masih kental dengan budaya maskulinisme. Misalnya, rapat partai dilakukan pada malam hari hingga menjelang subuh. Keadaan ini menyulitkan bagi perempuan, yang secara tradisional terikat dengan beban kewajiban untuk menjaga anak dan melayani suami.
Sehingga, hal tersebut menghambat perempuan untuk berperan di bidang politik. Contoh lain, mayoritas perempuan tidak mandiri secara ekonomi, artinya secara finansial masih bergantung kepada suami. Oleh karena itu, perempuan harus seijin suaminya dalam hal membelanjakan uangnya, termasuk untuk membelanjakan uangnya di bidang politik, terkait dengan gerakannya di partai politik. Hal ini berbeda dengan laki-laki yang mayoritas bertindak sebagai pengambil keputusan berkaitan dengan posisinya sebagai kepala rumah tangga.
Bahkan, ketika aktivis perempuan berhasil mendesakkan tindakan afirmatif dalam UU Pemilu yang memuat kuota 30% bagi keberadaan calon anggota legislatif perempuan, itu pun tidak berjalan mulus mendudukkan perempuan sebagai wakil rakyat. Hal ini terkait dengan persoalan teknis di lapangan, dimana kuota 30% bagi perempuan hanya diberlakukan di tataran pencalonan dan tanpa sanksi bagi partai politik yang tidak mampu memenuhinya. Sedangkan, urusan penomoran urutan caleg berada di tangan pimpinan partai politik yang didominasi oleh laki-laki. Tidak hanya itu, sistem zipper yang sedianya dianggap mampu menaikkan keterwakilan perempuan di parlemen justru harus “kandas” karena “dipatahkan” melalui Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK).
Dengan demikian, perjuangan perempuan dalam upaya menegakkan kesetaraan gender masih jauh dari harapan. Peningkatan jumlah anggota dewan perempuan dari periode ke periode belum mampu mengentaskan kaumnya dari ketidaksetaraan gender yang dialami. Oleh karena itu, perjuangan perempuan untuk mewujudkan kesetaraan gender tidak dapat dilakukan oleh kaum perempuan sendiri, melainkan diperlukan kerjasama dengan entitas sosial lain yang memiliki kepekaan terhadap persoalan perempuan (gender sensitivity).
Selain itu, perjuangan tersebut juga memerlukan upaya yang sistematis, terprogram, dan berkesinambungan pada semua sisi pembangunan. Disamping itu, perjuangan tersebut juga memerlukan komitmen bersama dari para pengambil keputusan, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, LSM, kaum cendekiawan, beserta seluruh elemen masyarakat dalam rangka mengeliminasi berbagai kendala kultural, struktural, dan instrumental dalam upaya mewujudkan kesetaraan gender di semua lini kehidupan.
Judul Utama : Kiprah Perempuan di Ranah Politik dari Masa Ke Masa
Oleh : Luky Sandra Amalia
Sumber : http://www.politik.lipi.go.id/
Pembagian kerja berbasis jenis kelamin (gender based division of labor) telah melandasi terjadinya stratifikasi gender yang membuat perempuan hanya bekerja di sektor domestik sedangkan laki-laki di wilayah publik. Pekerjaan di sektor domestik seringkali dianggap lebih rendah daripada pekerjaan di wilayah publik, disamping juga dianggap sebagai pekerjaan yang tidak bernilai ekonomi (unpaid labor).
Oleh karena itu, aktivis perempuan tidak henti-hentinya berjuang untuk meningkatkan kesadaran perempuan yang secara sadar atau tidak sadar telah mengadopsi praktek-praktek patriarki, bahkan perempuan sendiri menerima keadaan tersebut sebagai kodrat (given).
Sebenarnya, bagaimana kiprah kaum perempuan di Indonesia, khususnya di bidang politik? Sejak kapan perjuangan perempuan di ranah politik dimulai dan bagaimana bentuknya? Untuk itu, tulisan ini akan menuturkan kiprah perempuan di ranah politik dari masa ke masa.
Perempuan dan Rezim
Perjuangan aktivis perempuan, sejatinya, telah dimulai jauh sebelum Republik Indonesia merdeka. Hal ini ditunjukkan dengan berdirinya organisasi-organisasi perempuan yang berkontribusi terhadap kemerdekaan Indonesia. Misalnya, organisasi Pawijatan Wanito di Magelang yang didirikan pada tahun 1915 dan PIKAT (Perantaraan Ibu kepada Anak Temurun) yang dibentuk di Manado pada tahun 1917. Selain itu, di Surabaya juga ada organisasi perempuan yang dikenal dengan Poetri Boedi sejak didirikan pada tahun 1919 (Suryochondro, 1999:3). Beberapa organisasi perempuan ini, setidaknya, memberikan inspirasi bagi gerakan kaum perempuan yang terus menjamur pada masa selanjutnya, yaitu masa setelah kemerdekaan hingga memasuki Orde Lama.
Perkembangan organisasi perempuan semakin tampak setelah lahirnya Kongres Wanita Indonesia (Kowani) pada tahun 1945. Kowani merupakan “reinkarnasi” dari organisasi perempuan yang didirikan pada tahun 1928, yaitu Perikatan Perkoempoelan Perempuan Indonesia (PPPI). Sayangnya, pada tahun 1965 Kowani menghadapi persoalan yang cukup serius, yaitu pimpinannya memiliki keberpihakan kepada G 30 S/PKI. Namun demikian, keadaan ini telah memunculkan organisasi perempuan baru sebagai bentuk respon atas peristiwa tersebut, yaitu Kesatuan Aksi Wanita Indonesia (Kawi). Tidak hanya itu, organisasi lain yang juga muncul adalah Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) yang beraliran komunis (Kompas,7 Oktober 1999).
Pada masa Orde Lama, selain organisasi juga muncul beberapa nama perempuan yang berkiprah dalam bidang politik, antara lain Kartini Kartaradjasa dan Supeni, dua nama yang terkenal dari Partai Nasional Indonesia (PNI). Tidak hanya itu, Partai Kristen Indonesia (Parkindo) juga memiliki tokoh perempuan yaitu Walandauw. Demikian halnya di Partai Nadhlatul Ulama juga ada nama Mahmuda Mawardi dan HAS Wachid Hasyim. Sementara itu, Salawati Daud merupakan tokoh perempuan terkenal dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Hal ini menunjukkan bahwa pada masa pemerintahan Orde Lama, keberadaan perempuan diperhitungkan di panggung politik. Namun, semua itu sirna seiring dengan berakhirnya masa kekuasaan rezim Orde Lama dan berganti dengan Orde Baru.
Masa transisi dari Orde Lama menuju Orde Baru merupakan saat yang sulit bagi pergerakan perempuan di Indonesia. Organisasi perempuan dianggap sebagai salah satu elemen yang harus diawasi dan dipasung atas nama kepentingan negara. Salah satu contoh nyata adalah gerakan penghancuran hingga ke akar-akarnya yang dilakukan terhadap Gerwani pada tahun 1965. Penghancuran ini dilakukan dengan cara politik pencitraan hingga di tingkat daerah dimana Gerwani dicitrakan sebagai sekumpulan perempuan kejam yang kerapkali menyilet dan menyiksa para korbannya.
Pada masa Orde Baru, organisasi perempuan disentralisasi oleh negara di bidang “keperempuanan”. Perempuan berperan sebagai istri pendamping suami, pendidik anak dan pembina generasi muda, serta pengatur ekonomi rumah tangga. Kalaupun ada perempuan yang bekerja di luar rumah, hanya dianggap sebagai pencari nafkah tambahan. Selain itu, kiprah perempuan di luar rumah juga difokuskan pada aktivitas sosial dan penyumbang tenaga pada masyarakat. Hal ini, tentu saja, semakin melanggengkan budaya patriarki.
Salah satu organisasi yang terkenal pada masa itu adalah Dharma Wanita yang berdiri pada tahun 1974 dan dikenal sebagai organisasi istri pegawai negeri. Organisasi ini juga terkenal dengan programnya yang disebut PKK (Pendidikan Kesejahteraan Keluarga). Demikian halnya dengan istri-istri ABRI juga tergabung dalam organisasi sesuai dengan bidang suaminya, antara lain Persit (Persatuan Istri Tentara) Candra Kirana bagi istri angkatan darat, Jalasenastri untuk istri angkatan laut, PIA Ardhya Garini bagi istri angkatan udara, dan Bhayangkari untuk istri anggota Polri.
Namun demikian, pada tahun 1980-an banyak bermunculan organisasi perempuan yang mencoba untuk keluar dari rumusan peran Orde Baru, diantaranya Yayasan Annisa Swasti (Yasanti) di Yogyakarta dan Yayasan Kalyanamitra di Jakarta. Yayasan ini bahkan memiliki jaringan hingga ke LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), yakni LSM Solidaritas Perempuan dan LSM Rifka Annisa. Perjuangan aktivis perempuan pada masa ini tidaklah mudah sebab di satu sisi mereka harus mengubah mindset kaum perempuan terhadap kesetaraan gender, dan di sisi lain mereka juga harus berhadapan dengan negara yang memiliki rumuan peran perempuan yang berbeda dengan perjuangan mereka.
Perempuan dan Reformasi
Keberadaan organisasi perempuan semakin mendapat tempat seiring dengan runtuhnya rezim otoriter Orde Baru. Perjuangan aktivis perempuan untuk memperjuangkan hak kaum perempuan yang selama ini dipasung oleh pemerintah atas nama kepentingan negara semakin terbuka lebar. Organisasi perempuan terus bermunculan dalam berbagai bentuk, tidak hanya dalam bentuk ormas, yayasan, dan LSM, melainkan juga dalam bentuk women crisis center dan hotline.
Tidak hanya itu, partai politik pun tidak ketinggalan memasukkan unsur perempuan ke dalam bidang organisasinya maupun sayap organisasi yang dipimpin langsung oleh perempuan. Misalnya, Partai Golkar memiliki Kesatuan Perempuan Partai Golkar (KPPG), Partai Persatuan Pembangunan (PPP) memikili Wanita Persatuan, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memiliki Perempuan Kebangkitan Bangsa, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memiliki Departemen Urusan Pemberdayaan Perempuan (DUPP), Partai Amanat Nasional (PAN) memiliki Perempuan Amanat Nasional, dan masih banyak lagi.
Keberpihakan terhadap kaum perempuan juga ditunjukkan dengan amandemen UUD 1945 dan memuat unsur kesetaraan gender dalam bentuk persamaan hak dan kewajiban antar sesama warga negara dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam bidang hukum dan pemerintahan. Bahkan, pada saat pembentukan draft amandemen UUD 1945, organisasi perempuan juga dilibatkan di bawah koordinasi Komite Perempuan untuk Perdamaian dan Demokrasi. Hal ini diperkuat dengan UU RI Nomor 39 Tahun 1999, Pasal 46, tentang Hak Asasi Manusia yang menjamin keterwakilan perempuan, baik di legislatif, eksekutif, maupun yudikatif.
Tidak hanya itu, pemerintah Indonesia juga mengeluarkan Inpres Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional yang mengharuskan seluruh kebijakan dan Program Pembangunan Nasional dirancang dengan perspektif gender (Anshor, 2008). Sebelum itu, sebetulnya pemerintah Orde Baru telah meratifikasi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, Konvensi mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women-CEDAW) yang disahkan melalui UU R Nomor 7 Tahun 1984.
Namun demikian, perjuangan perempuan masih menemui jalan berliku karena hingga saat ini untuk mencapai wilayah publik (lembaga legislatif) harus melalui pintu partai politik sebagai satu-satunya mesin politik di Indonesia. Padahal, tidak semua partai politik berpihak kepada perempuan. Artinya, dunia politik masih kental dengan budaya maskulinisme. Misalnya, rapat partai dilakukan pada malam hari hingga menjelang subuh. Keadaan ini menyulitkan bagi perempuan, yang secara tradisional terikat dengan beban kewajiban untuk menjaga anak dan melayani suami.
Sehingga, hal tersebut menghambat perempuan untuk berperan di bidang politik. Contoh lain, mayoritas perempuan tidak mandiri secara ekonomi, artinya secara finansial masih bergantung kepada suami. Oleh karena itu, perempuan harus seijin suaminya dalam hal membelanjakan uangnya, termasuk untuk membelanjakan uangnya di bidang politik, terkait dengan gerakannya di partai politik. Hal ini berbeda dengan laki-laki yang mayoritas bertindak sebagai pengambil keputusan berkaitan dengan posisinya sebagai kepala rumah tangga.
Bahkan, ketika aktivis perempuan berhasil mendesakkan tindakan afirmatif dalam UU Pemilu yang memuat kuota 30% bagi keberadaan calon anggota legislatif perempuan, itu pun tidak berjalan mulus mendudukkan perempuan sebagai wakil rakyat. Hal ini terkait dengan persoalan teknis di lapangan, dimana kuota 30% bagi perempuan hanya diberlakukan di tataran pencalonan dan tanpa sanksi bagi partai politik yang tidak mampu memenuhinya. Sedangkan, urusan penomoran urutan caleg berada di tangan pimpinan partai politik yang didominasi oleh laki-laki. Tidak hanya itu, sistem zipper yang sedianya dianggap mampu menaikkan keterwakilan perempuan di parlemen justru harus “kandas” karena “dipatahkan” melalui Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK).
Dengan demikian, perjuangan perempuan dalam upaya menegakkan kesetaraan gender masih jauh dari harapan. Peningkatan jumlah anggota dewan perempuan dari periode ke periode belum mampu mengentaskan kaumnya dari ketidaksetaraan gender yang dialami. Oleh karena itu, perjuangan perempuan untuk mewujudkan kesetaraan gender tidak dapat dilakukan oleh kaum perempuan sendiri, melainkan diperlukan kerjasama dengan entitas sosial lain yang memiliki kepekaan terhadap persoalan perempuan (gender sensitivity).
Selain itu, perjuangan tersebut juga memerlukan upaya yang sistematis, terprogram, dan berkesinambungan pada semua sisi pembangunan. Disamping itu, perjuangan tersebut juga memerlukan komitmen bersama dari para pengambil keputusan, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, LSM, kaum cendekiawan, beserta seluruh elemen masyarakat dalam rangka mengeliminasi berbagai kendala kultural, struktural, dan instrumental dalam upaya mewujudkan kesetaraan gender di semua lini kehidupan.
Judul Utama : Kiprah Perempuan di Ranah Politik dari Masa Ke Masa
Oleh : Luky Sandra Amalia
Sumber : http://www.politik.lipi.go.id/
Catatan Lombok Post terkait Sitti Rohmi Djalillah
HAMDANI WATHONI, Wartawan Lombok Post mencatat bahwa Rektor Universitas Hamzanwadi Dr. Sitti Rohmi Djalillah menjadi salah satu figur perempuan yang digadang sebagai calon kuat dalam Pilgub NTB mendatang. Bagaimana sosok akademisi yang juga kakak dari Gubernur NTB HM Zainul Majdi ini? Berikut catatannya
Judul Utama : Lebih Dekat dengan Sitti Rohmi Djalillah (1)
Sumber : Lombok Post
Raut wajahnya teduh. Dalam setiap kata yang dia ucapkan, sebagian besar diakhiri dengan senyum tipis. Anak pertama dari almarhum HM. Djalaluddin dan Siti Rauhun ini merupakan kakak dari Gubernur NTB Dr HM Zainul Majdi dan empat saudara lainnya.
Ditemui Lombok Post di ruangannya, Dr Sitti Rohmi Djalillah masih terlihat sibuk dengan sejumlah urusan di Universitas. Namun, ia berupaya meluangkan waktunya. Dalam balutan hijab biru, ia masih nampak anggun di usianya yang hampir setengah abad.
Rohmi, sapaannya lahir di Pancor 29 Nopember 1968. Namun demikian, ia tumbuh besar di Mataram di kediaman orang tuanya. Ia menghabiskan mas kanak-kanak di SDN 3 Mataram kemudian SMPN 2 Mataram dan SMAN 1 Mataram.
Sejak duduk di bangku kelas SD hingga SMA, istri Ketua DPRD Lotim H Khairul Rizal ini adalah langganan juara umum di sekolahnya. Apa rahasianya? Rohmi pun mengungkap bagaimana ia berhasil mendapatkan sejumlah prestasi yang diraihnya. “Semua biasa saja tidak ada yang istimewa. Semua berjalan apa adanya karena orang tua memang mendidikkami hidup sederhana,” tuturnya membuka percakapan.
Diceritakan Rohmi bagaimana kehidupan dirinya bersama keluarganya sejak masa kecil. Ia mengaku dididik dalam penuh kesederhanaan namun mengedepankan agama sebagai yang utama. Misalnya saja kewajiban untuk salat berjamaah, di waktu subuh, maghrib dan isya.
“Tiga waktu tersebut wajib berjamaah. Ini yang saya rasakan ditekankan oleh kedua orang tua saya. Kalau untuk masalah pelajaran, nggak ada yang khusus. Lebih banyak waktunya belajar di sekolah. Kalau di rumah sih lebih banyak mainnya seperti anak pada umumnya,” bebernya tersenyum.
Selain itu, keluarganya dikatakannya memiliki kebiasan untuk wajib sarapan, makan siang hingga makan malam bersama-sama di rumah. Kebersamaan dalam keluarga dalam sebuah kesederhanaan menjadi sebuah konsep yang sangat dijaga oleh ayahnya.
“Kami itu juga oleh beliau didik disiplin. Kalau misalnya ngatur waktu itu harus pintar, yang paling utama jangan tinggal salat. Lebih baik tinggal yang lain,” akunya.
Meski demikian, menurutnya keluarganya tidak seperti yang dibayangkan banyak orang. Meski hidup dalam dunia pendidikan Islam pesantren, ia merasa hidup normal seperti anak pada umumnya. Tidak melulu berkutat dalam kesibukan belajar.
“Tidak seperti yang dibayangkan. Waktunya main ya main, waktu sekolah ya sekolah. Itu pak tuan guru (TGB, Red) dia mainnya minta ampun. Lapangan Sangkareang itu sudah jadi daerah kekuasaannya untuk main. Nggak melulu kok belajar agama,” ceritanya.
Keseharian Rohmi semasa kecil dijalani seperti anak seusianya. Tidak ada perlakuan istimewa meskipun saat itu ia adalahanak seorang pejabat pemerintah daerah. “Kami nggak pernah merasa kalau kami ini anak pejabat. Nggak pakai fasilitas mobil bapak untuk ke sekolah. Saya jalan kaki dari rumah ke sekolah, kadang kalau panas naik bemo,” kenangnya.
Prestasi di SD berlanjut ketika duduk di bangku SMPN 2 Mataram. Dimana ia sempat khawatir bahwa di sekolah yang menjadi salah satu sekolah favorit di Kota Mataram tersebut tak lagi bisa juara.
“Alhamulillah ternyata dapat juara umum juga. Padahal pesaingnya berasal dari sejumlah sekolah ternama yang ada di Kota Mataram,” akunya.
Berhasil meraih juara umum saat itu, ia pun dihadiahi ayahnya sepeda motor Yamaha Super Cup 800. Dimana hadiah ini menjadi sesutau hal yang paling berharga menurutnya. “Itu saya gunakan sampai tamat kuliah S1 di ITS Surabaya. Bahagianya bukan main. Hadiah itu membuat saya termotivasi untuk terus juara hingga di bangku SMA,” tuturnya (Bersambung/r2).
Judul Utama : Lebih Dekat dengan Sitti Rohmi Djalillah (1)
Sumber : Lombok Post
Raut wajahnya teduh. Dalam setiap kata yang dia ucapkan, sebagian besar diakhiri dengan senyum tipis. Anak pertama dari almarhum HM. Djalaluddin dan Siti Rauhun ini merupakan kakak dari Gubernur NTB Dr HM Zainul Majdi dan empat saudara lainnya.
Ditemui Lombok Post di ruangannya, Dr Sitti Rohmi Djalillah masih terlihat sibuk dengan sejumlah urusan di Universitas. Namun, ia berupaya meluangkan waktunya. Dalam balutan hijab biru, ia masih nampak anggun di usianya yang hampir setengah abad.
Rohmi, sapaannya lahir di Pancor 29 Nopember 1968. Namun demikian, ia tumbuh besar di Mataram di kediaman orang tuanya. Ia menghabiskan mas kanak-kanak di SDN 3 Mataram kemudian SMPN 2 Mataram dan SMAN 1 Mataram.
Sejak duduk di bangku kelas SD hingga SMA, istri Ketua DPRD Lotim H Khairul Rizal ini adalah langganan juara umum di sekolahnya. Apa rahasianya? Rohmi pun mengungkap bagaimana ia berhasil mendapatkan sejumlah prestasi yang diraihnya. “Semua biasa saja tidak ada yang istimewa. Semua berjalan apa adanya karena orang tua memang mendidikkami hidup sederhana,” tuturnya membuka percakapan.
Diceritakan Rohmi bagaimana kehidupan dirinya bersama keluarganya sejak masa kecil. Ia mengaku dididik dalam penuh kesederhanaan namun mengedepankan agama sebagai yang utama. Misalnya saja kewajiban untuk salat berjamaah, di waktu subuh, maghrib dan isya.
“Tiga waktu tersebut wajib berjamaah. Ini yang saya rasakan ditekankan oleh kedua orang tua saya. Kalau untuk masalah pelajaran, nggak ada yang khusus. Lebih banyak waktunya belajar di sekolah. Kalau di rumah sih lebih banyak mainnya seperti anak pada umumnya,” bebernya tersenyum.
Selain itu, keluarganya dikatakannya memiliki kebiasan untuk wajib sarapan, makan siang hingga makan malam bersama-sama di rumah. Kebersamaan dalam keluarga dalam sebuah kesederhanaan menjadi sebuah konsep yang sangat dijaga oleh ayahnya.
“Kami itu juga oleh beliau didik disiplin. Kalau misalnya ngatur waktu itu harus pintar, yang paling utama jangan tinggal salat. Lebih baik tinggal yang lain,” akunya.
Meski demikian, menurutnya keluarganya tidak seperti yang dibayangkan banyak orang. Meski hidup dalam dunia pendidikan Islam pesantren, ia merasa hidup normal seperti anak pada umumnya. Tidak melulu berkutat dalam kesibukan belajar.
“Tidak seperti yang dibayangkan. Waktunya main ya main, waktu sekolah ya sekolah. Itu pak tuan guru (TGB, Red) dia mainnya minta ampun. Lapangan Sangkareang itu sudah jadi daerah kekuasaannya untuk main. Nggak melulu kok belajar agama,” ceritanya.
Keseharian Rohmi semasa kecil dijalani seperti anak seusianya. Tidak ada perlakuan istimewa meskipun saat itu ia adalahanak seorang pejabat pemerintah daerah. “Kami nggak pernah merasa kalau kami ini anak pejabat. Nggak pakai fasilitas mobil bapak untuk ke sekolah. Saya jalan kaki dari rumah ke sekolah, kadang kalau panas naik bemo,” kenangnya.
Prestasi di SD berlanjut ketika duduk di bangku SMPN 2 Mataram. Dimana ia sempat khawatir bahwa di sekolah yang menjadi salah satu sekolah favorit di Kota Mataram tersebut tak lagi bisa juara.
“Alhamulillah ternyata dapat juara umum juga. Padahal pesaingnya berasal dari sejumlah sekolah ternama yang ada di Kota Mataram,” akunya.
Berhasil meraih juara umum saat itu, ia pun dihadiahi ayahnya sepeda motor Yamaha Super Cup 800. Dimana hadiah ini menjadi sesutau hal yang paling berharga menurutnya. “Itu saya gunakan sampai tamat kuliah S1 di ITS Surabaya. Bahagianya bukan main. Hadiah itu membuat saya termotivasi untuk terus juara hingga di bangku SMA,” tuturnya (Bersambung/r2).
AMALAN MAQOMI MASTURAH atau PEREMPUAN
Maqami adalah amalan ketika pulang khuruj fi sabilillah. Istilah Maqami ini cukup populer di kalangan Jamaah Tabligh. Tujuan menghidupkan amal Maqomi adalah bagaimana kita bisa menghidupkan suasana agama di lingkungan mesjid kita.
Terutama bagi yang pulang dari Khuruj Fissabillillah penting bagi mereka menghidupkan amal maqomi untuk menjaga dan memelihara keimanan mereka. Jadi tujuan dari membuat amal maqomi bukan untuk merubah lingkungan tetapi untuk mewarnai lingkungan yaitu lingkungan yang hidup dengan amal agama.
Taklim rumah ini harus dan wajib dibuat , baik kepada istri-istri yang belum mengambil kerja masturah maupun yang sudah, orang tua kita katakan walaupun amalan laki-lakinya sudah menyerupai Hasan Basri rah.a, dan amalan istrinya seperti Rabiah al Adawiyah maka tetap taklim rumah harus di buat secara istiqomah di tempat dan waktu yang sama minimal 30 menit plus mudzaarah 6 sifat. Dan ada hari-hari tertentu kita buat mudzakarah adab-adab sehari-hari dan masail.
Penting sekali agar istri-istri kita di libatkan ikut serta dalam taklim mualah mingguan di muallah, dan tertib-tertib taklim muallah diantaranya beberapa wanita bisa menjalankan program, program dimusyawarahkan oleh kaum lelaki , dan taklim muallah harus di ketahui dan di setujui oleh markaz.
Kalau istri kita tak mendukung / menentang usaha dakwah maka hal-hal yang harus kita lakukan diantaranya :
1. Kita harus tetap tunaikan hak-hak istri kita walaupun dia menentang dan tidak setuju dengan usaha dakwah ini, kasih sayang kita jangan lah berkurang sedikitpun kepada dia , jangan main ancam-ancam untuk melakukan poligami kalau istri kita menolak dakwah, jangan pernah punya pikiran seperti itu, kita harus tetap tunaikan keperluan dan hak dia.
2. Kita jangan menuntut hak kita di tunaikan, kalau sekiranya istri kita tidak mau mencucikan baju kita ya kita cuci sendiri, kalau istri kita tidak mau masak yang masak sendiri bahkan kalau istri kita tidak mau di ajak ”tidur” ya kita tidur sendiri. Intinya kita jangan menuntut hak kita.
3. Tetap lakukan dakwah secara istiqomah, waktunya nisab kita tetap berangkat walau istri tidak setuju, kalau kita pulang istri kita marah, maka kita diam saja dengan tetap jaga kasih sayang, jangan pernah lupa hak istri walau dia mati-matian menentang dakwah. Insya Allah kita semua niat amal.
Subhanallahi wabihamdika ashadu ala ilaha ila anta astagfiruka waatubuhu ilaik’..
Terutama bagi yang pulang dari Khuruj Fissabillillah penting bagi mereka menghidupkan amal maqomi untuk menjaga dan memelihara keimanan mereka. Jadi tujuan dari membuat amal maqomi bukan untuk merubah lingkungan tetapi untuk mewarnai lingkungan yaitu lingkungan yang hidup dengan amal agama.
1. Ta`lim Rumah
Taklim rumah ini harus dan wajib dibuat , baik kepada istri-istri yang belum mengambil kerja masturah maupun yang sudah, orang tua kita katakan walaupun amalan laki-lakinya sudah menyerupai Hasan Basri rah.a, dan amalan istrinya seperti Rabiah al Adawiyah maka tetap taklim rumah harus di buat secara istiqomah di tempat dan waktu yang sama minimal 30 menit plus mudzaarah 6 sifat. Dan ada hari-hari tertentu kita buat mudzakarah adab-adab sehari-hari dan masail.
2. Ta`lim Muhallah.
Penting sekali agar istri-istri kita di libatkan ikut serta dalam taklim mualah mingguan di muallah, dan tertib-tertib taklim muallah diantaranya beberapa wanita bisa menjalankan program, program dimusyawarahkan oleh kaum lelaki , dan taklim muallah harus di ketahui dan di setujui oleh markaz.
Kalau istri kita tak mendukung / menentang usaha dakwah maka hal-hal yang harus kita lakukan diantaranya :
1. Kita harus tetap tunaikan hak-hak istri kita walaupun dia menentang dan tidak setuju dengan usaha dakwah ini, kasih sayang kita jangan lah berkurang sedikitpun kepada dia , jangan main ancam-ancam untuk melakukan poligami kalau istri kita menolak dakwah, jangan pernah punya pikiran seperti itu, kita harus tetap tunaikan keperluan dan hak dia.
2. Kita jangan menuntut hak kita di tunaikan, kalau sekiranya istri kita tidak mau mencucikan baju kita ya kita cuci sendiri, kalau istri kita tidak mau masak yang masak sendiri bahkan kalau istri kita tidak mau di ajak ”tidur” ya kita tidur sendiri. Intinya kita jangan menuntut hak kita.
3. Tetap lakukan dakwah secara istiqomah, waktunya nisab kita tetap berangkat walau istri tidak setuju, kalau kita pulang istri kita marah, maka kita diam saja dengan tetap jaga kasih sayang, jangan pernah lupa hak istri walau dia mati-matian menentang dakwah. Insya Allah kita semua niat amal.
Subhanallahi wabihamdika ashadu ala ilaha ila anta astagfiruka waatubuhu ilaik’..
Mudzakarah Masturoh, 8 Pesanan / Tugas / Pembiasaan Perempuan
8 Pesanan Wanita
Pesanan ulama tehadap para wanita :
Aurat wanita di luar sholat seluruh tubuhnya harus di tutup secara sempurna ketika keluar rumah dan ditemani dengan mahramnya
Pesanan ulama tehadap para wanita :
- Sholat di awal waktu
- Membaca Al Quran secara istiqamah
- Ta’lim wa ta’allum
- Mendidik anak secara sunnah
- Hidup sederhana
- Menutup aurat secara sempurna
- Melayani suami dengan baik
- Mendorong suami dan muhrim untuk keluar di jalan Allah
1. Sholat Di Awal Waktu
- a.Berwudhu sebelum adzan
- b.Mendorong suami, saudara laku2, anak laki2, bapak untuk sholat berjamaah di masjid
- c.Meninggalkan semua kegiatan waktu adzan dikumandangkan
- d.Memperbanyak sholat-sholat sunnah (rawatib, Isyraq, dhuha, tasbih, awwabin, tahajud dan witir).
2. Membaca Al Quran dan Zikir Pagi Petang secara Istiqamah
- a.Mengusahakan membaca 1 juz setiap hari bagi yang sudah lancar membaca dan 3 juz per hari bagi yang hafidzah.
- b.Membaca surat As Sajadah dan Al Mulk di antara maghrib dan Isya
- c.Membaca surat Yasin pagi dan petang
- d.Membaca Al Waqiah sebelum tidur
- e.Membaca surat Ad Dukhan setiap hari
- f. Membaca Tasbihat , sholawat, dan istighfar masing2 100 kali di waktu setelah sholat subuh dan setelah sholat ashar
3. Ta’lim wa Ta’allum
- a.Menghidupkan ta’lim secara istiqamah setiap hari di rumah
- b. Menceritakan kisah para Nabi dan para shahabat dengan cara yang mudah difahami oleh anak
- cMengajarkan cara sholat, cara berpakaian secara sunnah, dan sunnah2 nabi dalam keseharian (makan, tidur, safar, istinja, dll).
4. Mendidik anak Secara Sunnah
- a. Memperkenalkan sunnah kepada anak sejak sedini mungkin
- b.Mendidik mereka adab-adab, doa-doa nabi, cara bergaul.
- c. Beri contoh dengan contoh yang baik
- d.Mendidik sholat ketikan usia 7 tahun dan membiasakannya untuk sholat 5 waktu dan sholat2 sunnah
5. Hidup dengan Pola Sederhana
- a.Kita harus mencontoh kehisupan Rasulullah yang sederhana
- b.Jangan sembarangan membelanjakan harta suami secara berlebih-;ebihan dan tidak tepat, bermusyawarahlah untuk setiap pengeluaran.
- c.Belanja menurut kebutuhan bukan memenuhi keinginan nafsu.
- d.Mengatur keuangan keluarga
6. Menutup Aurat secara Sempurna
Aurat wanita di luar sholat seluruh tubuhnya harus di tutup secara sempurna ketika keluar rumah dan ditemani dengan mahramnya
7. Melayani Suami
- a.Mempersiapkan semua kebutuhan suami dan mengurus rumah dengan bersih dan rapi
- b.Mencuci baju, memasak,
- c.Diam ketika suami berbicara
- d.Mengantar suami apabila mau pergi
- e.Berhias / rapi / bersih / wangi di hadapan suami
- f. Memakai wangi-wangian
- g.Memelihara bau mulut
- h.Menawarkan diri ketika mau tidur
8.Mendorong Suami dan Muhrim untuk Keluar di Jalan Allah
- a.Mengingatkan dan menyiapkan keperluan mereka
- b.Mengorbankan segala yang ada untuk memperjuangkan agama Allah
Langgan:
Catatan (Atom)








